Perlukah apel besar, atau cukup apel di masing-masing pesantren?
Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang seberapa besar apel diselenggarakan, berapa banyak santri yang hadir, siapa pejabat yang menjadi pembina upacara, atau seberapa meriah kegiatan yang dilaksanakan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah tentang setelah Hari Santri Nasional diperingati, sejauh mana kehidupan pesantren, kualitas santri, dan kontribusi pesantren bagi bangsa mengalami kemajuan?
Apel besar tetap penting, tetapi tidak harus menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan peringatan Hari Santri Nasional. Apel di masing-masing pesantren juga memiliki nilai yang tidak kalah penting. Bahkan, dalam kondisi tertentu, apel yang sederhana tetapi disertai refleksi, evaluasi, dan aksi nyata dapat memberikan dampak yang lebih mendalam daripada apel besar yang hanya bersifat seremonial.
Apel besar simbol persatuan atau sekadar seremoni?
Apel besar Hari Santri Nasional mempunyai beberapa fungsi strategis. Pertama, membangun identitas kolektif santri. Santri perlu menyadari bahwa mereka merupakan bagian dari komunitas nasional yang memiliki sejarah, perjuangan, dan tanggung jawab kebangsaan. Kedua, memperlihatkan eksistensi pesantren sebagai institusi pendidikan yang memiliki kontribusi nyata bagi Indonesia. Apel besar dapat menjadi ruang perjumpaan antara pesantren, pemerintah, perguruan tinggi, organisasi keagamaan, dan masyarakat. Ketiga, memperkuat pesan bahwa santri bukan kelompok yang hanya berkutat pada kehidupan internal pesantren. Santri memiliki tanggung jawab untuk ikut menyelesaikan persoalan bangsa, mulai dari kemiskinan, kerusakan lingkungan, ketimpangan pendidikan, krisis moral, hingga tantangan transformasi digital.
Namun, apel besar juga menyimpan sejumlah persoalan kritis. Apakah besarnya jumlah peserta sebanding dengan besarnya dampak yang dihasilkan? Apakah anggaran dan tenaga yang dikerahkan untuk kegiatan seremonial telah dipertimbangkan secara proporsional? Apakah santri menjadi subjek yang memahami makna Hari Santri Nasional, atau sekadar peserta yang mengikuti instruksi? Apakah setelah apel selesai, ada perubahan nyata dalam kebijakan, kualitas pendidikan, dan pemberdayaan pesantren.
Apabila pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dijawab, apel besar berisiko mengalami pergeseran makna dari media pendidikan kebangsaan menjadi rutinitas seremonial tahunan. Kebesaran peringatan seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah orang yang berkumpul, tetapi juga dari besarnya kesadaran yang tumbuh dan manfaat yang dihasilkan.
Apel di masing-masing pesantren, sederhana, tetapi lebih substantif?
Apel di masing-masing pesantren memiliki kelebihan tersendiri. Pesantren merupakan ruang pendidikan yang memungkinkan nilai-nilai Hari Santri Nasional diterjemahkan langsung ke dalam kehidupan sehari-hari. Peringatan dapat dilanjutkan dengan kegiatan yang lebih dekat dengan kebutuhan santri, seperti refleksi sejarah perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan; penguatan disiplin, akhlak, adab, dan tanggung jawab sosial; diskusi tentang hubungan keislaman, kebangsaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi; gerakan literasi, kebersihan lingkungan, penghijauan, dan pelayanan masyarakat; evaluasi kualitas pembelajaran, kesehatan santri, fasilitas pendidikan, serta perlindungan santri dari kekerasan dan perundungan.
Dengan pendekatan ini, Hari Santri Nasional bukan hanya diperingati, melainkan dihidupkan dalam kultur pendidikan pesantren. Akan tetapi, apel internal juga tidak otomatis lebih baik. Jika hanya menjadi kegiatan rutin tanpa refleksi dan tindak lanjut, apel di masing-masing pesantren dapat kehilangan substansinya. Oleh karena itu, yang menentukan bukan semata-mata lokasi dan skala kegiatan, melainkan desain serta dampaknya.
Mana yang lebih tepat, apel besar atau apel di setiap pesantren?
Apel besar tingkat kabupaten atau daerah. Kegiatan focus pada persatuan, identitas kolektif, diplomasi publik, dan penguatan jejaring antarlembaga. Kegiatan ini cocok untuk membangun kebersamaan lintas pesantren, memperlihatkan kontribusi pesantren kepada publik, dan menyampaikan komitmen pemerintah terhadap pengembangan pesantren.
Apel di masing-masing pesantren. Fokus pada pendidikan nilai, penguatan karakter, refleksi sejarah, dan perubahan perilaku. Sangat cocok untuk menghubungkan semangat Hari Santri Nasional dengan kurikulum, pembiasaan akhlak, pembelajaran, dan program pengabdian masyarakat.
Model kombinasi, simbolik sekaligus substantif. Dapat direkomendasikan bahwa apel besar diselenggarakan secara proporsional, sementara setiap pesantren melaksanakan kegiatan pendidikan dan aksi nyata sesuai kebutuhan masing-masing. Model kombinasi merupakan pilihan paling rasional. Tidak semua santri harus selalu dikumpulkan di satu lokasi untuk membuktikan persatuan. Persatuan juga dapat dibangun melalui keserentakan kegiatan, kesamaan nilai, dan komitmen bersama. Sebaliknya, apel besar tetap dibutuhkan pada momentum tertentu karena ada nilai simbolik dan kebangsaan yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh kegiatan internal.
Refleksi yang lebih mendasar, apa yang seharusnya kita rayakan?
Ada empat pertanyaan yang seharusnya menjadi bahan evaluasi bersama. Pertama, apakah kita merayakan sejarah atau melanjutkan perjuangan? Resolusi Jihad dan keterlibatan santri dalam perjuangan kemerdekaan merupakan bagian penting dari sejarah bangsa. Menghormati sejarah tidak cukup dengan mengulang narasi perjuangan. Semangat itu perlu diterjemahkan ke dalam perjuangan kontemporer, seperti melawan kebodohan, kemiskinan, intoleransi, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, dan kemerosotan integritas.
Kedua, apakah kita membanggakan jumlah santri atau meningkatkan kualitas mereka? Santri perlu memiliki kedalaman ilmu agama, keluhuran akhlak, kecakapan literasi, penguasaan teknologi, kemampuan berpikir kritis, serta kemandirian ekonomi. Kebanggaan terhadap kuantitas harus diikuti investasi serius terhadap kualitas pendidikan.
Ketiga, apakah pemerintah dan masyarakat hanya hadir saat peringatan? Hari Santri semestinya menjadi momentum untuk mengevaluasi dukungan terhadap pesantren, seperti akses pendidikan bermutu, kompetensi pendidik, sarana prasarana, perlindungan santri, kesehatan lingkungan, dan keberlanjutan pembiayaan. Apresiasi simbolik perlu disertai kebijakan yang konsisten.
Keempat, apakah pesantren telah menyiapkan santri untuk masa depan? Pesantren harus menjaga tradisi keilmuan dan spiritualitasnya, sekaligus terbuka terhadap ilmu pengetahuan, inovasi, dan perubahan zaman. Santri masa depan bukan hanya santri yang saleh secara individual, tetapi juga kompeten, produktif, berintegritas, dan mampu memberi manfaat kepada masyarakat luas.
Usulan model peringatan Hari Santri yang lebih berdampak adalah dengan mengembangkannya menjadi gerakan tiga tahapan.
Tahapan 1 adalah apel kebangsaan. Apel besar dilaksanakan pada tingkat yang relevan, dengan jumlah peserta, pembiayaan, dan logistik yang proporsional. Apel menekankan pesan kebangsaan, persatuan, dan komitmen bersama untuk memajukan pesantren.
Tahapan 2 adalah refleksi dan evaluasi pesantren. Setiap pesantren mengadakan kajian sejarah, diskusi tantangan santri masa kini, evaluasi pendidikan, serta perumusan komitmen perbaikan yang melibatkan pengasuh, ustadz, dan santri.
Tahapan 3 adalah aksi nyata untuk masyarakat. Setiap pesantren memilih minimal satu program konkret, seperti gerakan literasi, bakti sosial, penanaman pohon, pendampingan belajar, penguatan UMKM, atau kampanye antiperundungan.
Keberhasilan model ini tidak cukup diukur dari jumlah peserta apel. Indikatornya perlu mencakup keterlibatan santri, mutu kegiatan refleksi, jumlah program yang terlaksana, manfaat bagi masyarakat, dan tindak lanjut setelah peringatan berakhir.
Untuk daerah yang memiliki tradisi pesantren kuat seperti OKU Timur, peringatan Hari Santri Nasional seharusnya dapat menjadi kesempatan membangun gerakan bersama tanpa harus memusatkan seluruh aktivitas pada satu acara besar. Misal, pemerintah daerah, Kementerian Agama, organisasi pesantren, lembaga pendidikan, dan perguruan tinggi dapat menyepakati satu tema aksi bersama. Apel kabupaten dilaksanakan secara proporsional, sementara pesantren-pesantren menjalankan program yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Perguruan tinggi berbasis pesantren seperti Universitas Nurul Huda juga dapat berkontribusi melalui pendampingan literasi digital, penguatan kewirausahaan santri, pengabdian masyarakat, edukasi lingkungan, dan pengembangan kompetensi guru pesantren. Dengan demikian, perguruan tinggi tidak sekadar menjadi peserta peringatan, tetapi menjadi mitra yang menghubungkan tradisi pesantren dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan pemecahan persoalan masyarakat.
Jangan sampai sibuk memperingati, tetapi lupa memperjuangkan. Hari Santri Nasional bukan sekadar milik panitia, pejabat, atau lembaga yang menyelenggarakan apel. Hari Santri Nasional adalah momentum milik seluruh komunitas pesantren dan bangsa Indonesia. Apel besar memiliki tempatnya. Apel di masing-masing pesantren juga memiliki maknanya, tidak perlu mempertentangkan keduanya secara mutlak. Justru yang harus dikritisi adalah ketika kemeriahan acara lebih diutamakan daripada substansi perjuangan, ketika simbol lebih dirawat daripada kualitas pendidikan, dan ketika kebanggaan terhadap sejarah tidak diikuti keberanian memperbaiki masa depan. Ukuran keberhasilan Hari Santri Nasional bukanlah seberapa megah santri berdiri dalam satu barisan, melainkan seberapa kuat santri membangun barisan intelektual, moral, dan sosial untuk kemajuan bangsa.
Jika apel besar mampu menyatukan tekad, laksanakanlah. Jika apel di setiap pesantren lebih efektif untuk mendidik dan menggerakkan santri, kuatkanlah. Jika keduanya dapat dipadukan secara proporsional, itulah pilihan yang patut diutamakan. Sebab, santri tidak hanya dipanggil untuk mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga dipersiapkan untuk memenangkan perjuangan masa depan.
No comments:
Post a Comment