Di balik pesatnya perkembangan Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja dan Universitas Nurul Huda, berdiri sosok ulama yang tidak hanya dikenal karena kedalaman ilmu agamanya, tetapi juga karena visi besarnya dalam membangun peradaban melalui pendidikan. Sosok seorang kiai yang meyakini bahwa pesantren harus mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai pusat pembinaan akhlak dan keilmuan Islam, sosok Kiai Visioner tersebut adalah
K. H. Affandi yang merintis dan mendirikan Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja.
Kiai visioner adalah ulama yang memiliki pandangan jauh ke depan, mampu membaca perubahan zaman, serta membangun umat melalui gagasan dan tindakan yang berdampak jangka panjang tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam. Seorang kiai visioner tidak hanya berperan sebagai pengajar ilmu agama, tetapi juga sebagai pemimpin yang mampu mengarahkan masyarakat menuju kemajuan dengan tetap berpegang teguh pada Al-Qur'an, Sunnah, dan akhlak mulia. Kiai visioner adalah pemimpin umat yang mampu memadukan kebijaksanaan agama dengan pandangan jauh ke depan, sehingga melahirkan perubahan yang berkelanjutan bagi pendidikan, masyarakat, dan peradaban.
K. H. Affandi merupakan Kiai Visioner, beliau mampu melihat pentingnya pendidikan sebagai fondasi peradaban. Melalui pembangunan Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja dan pengembangan lembaga pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi, beliau tidak hanya memenuhi kebutuhan zamannya, tetapi juga menyiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan. Terutama jika dilihat dari jejak ketokohannya dalam membangun lembaga pendidikan dan pemberdayaan masyarakat selama puluhan tahun.
Sejak merintis Pondok Pesantren Nurul Huda pada tahun 1980-an, K.H. Affandi telah menanamkan gagasan besar bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada penguasaan ilmu agama semata. Pesantren harus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, mencetak generasi yang beriman, berilmu, mandiri, serta mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Visi inilah yang kemudian melahirkan konsep pendidikan salafiyah plus, yaitu perpaduan antara pendalaman kitab kuning dengan pendidikan formal dan penguasaan ilmu pengetahuan modern.
Karakter ketokohan beliau dapat dirangkum sebagai:
1. Visioner dalam membaca kebutuhan pendidikan masyarakat.
2. Transformasional dalam mengubah masyarakat melalui pendidikan.
3. Konsisten membangun lembaga secara bertahap dan berkelanjutan.
4. Berorientasi pada kaderisasi dan keberlangsungan institusi.
Membangun pesantren bukan sekadar mendirikan gedung, tetapi membangun peradaban melalui pendidikan, akhlak, dan pengabdian kepada umat. Jejak perkembangan Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja dan lembaga-lembaga yang lahir darinya menjadi bukti bahwa visi beliau tidak hanya diwujudkan dalam konsep, tetapi juga dalam pembangunan institusi yang terus berkembang hingga kini.
Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja kini mengelola satuan pendidikan formal:
1. RA Nurul Huda Sukaraja,
2. MI Nurul Huda Sukaraja,
3. SD Al-Qur'aniyah Nurul Huda Martapura,
4. MI Nurul Huda Suka Mulya OKI,
5. MTs Nurul Huda Sukaraja,
6. SMP Terpadu Nurul Huda Tanah Merah,
7. SMP Al-Qur'aniyah Nurul Huda Martapura,
8. MTs Nurul Huda Suka Mulya OKI,
9. MA Nurul Huda Sukaraja,
10. SMK Nurul Huda Sukaraja,
11. SMA Terpadu Nurul Huda Tanah Merah, dan
12. Universitas Nurul Huda.
Ada tiga fakultas dan sekolah pascasarjana di Universitas Nurul Huda, yaitu:
1. Fakultas Agama Islam, dengan program studi:
a. Pendidikan Agama Islam (S1)
b. Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (S1)
2. Fakultas Ilmu Pendidikan, dengan program studi:
a. Pendidikan Fisika (S1)
b. Pendidikan Ekonomi (S1)
c. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (S1)
d. Pendidikan Bahasa Inggris (S1)
3. Fakultas Sains dan Teknologi, dengan program studi:
a. Matematika (S1)
b. Informatika (S1)
c. Sains Pertanian (S1)
4. Sekolah Pascasarjana, dengan program studi:
a. Pendidikan Agama Islam (S2)
Ada tiga cabang yang telah dibuka, yaitu:
1. Cabang Tanah Merah,
2. Cabang Martapura, dan
3. Cabang Suka Mulya OKI.
Satuan pendidikan diniyah meliputi:
1. Madrasah Diniyah Ula,
2. Madrasah Diniyah Wustho,
3. Madrasah Diniyah Ulya, dan
4. Madrasah Diniyah Takhasus
Unit asrama pondok pesantren yang dikelola meliputi:
1. Asrama Putri Pusat
2. Asrama Sunan Kali Jaga (putra)
3. Asrama Al-Umami (putra-putri)
4. Asrama Putri SMK
5. Asrama TPQ (putra SMK)
6. Asrama Cabang Tanah Merah (putra-putri)
7. Asrama Cabang Martapura (putra-putri)
8. Asrama Cabang Suka Mulya (putra-putri)
Ketokohan K.H. Affandi terbukti dengan kemampuannya membaca perubahan zaman. Ketika banyak pesantren masih berfokus pada pendidikan tradisional, beliau telah mendorong pengembangan pendidikan tinggi, penguatan jejaring kelembagaan, serta kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas manfaat pesantren bagi masyarakat. Visi tersebut menjadikan Nurul Huda tidak hanya dikenal sebagai pusat pendidikan Islam, tetapi juga sebagai motor pengembangan sosial dan pemberdayaan masyarakat di Sumatera Selatan.
Di tengah berbagai aktivitasnya, K.H. Affandi tetap istiqamah membimbing umat melalui pengajian rutin Kitab Al-Hikam setiap Ahad Legi. Dalam setiap kajian, beliau mengingatkan pentingnya membersihkan hati dari sifat hasad, sombong, dan penyakit-penyakit batin lainnya sebagai fondasi utama membangun kehidupan yang penuh keberkahan. Pesan-pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan ilmu dan teknologi harus selalu berjalan seiring dengan kemuliaan akhlak.
Keteladanan KH. Affandi menunjukkan bahwa seorang kiai bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga pelopor perubahan. Dengan visi yang jauh ke depan, beliau berhasil menjadikan pesantren sebagai pusat lahirnya generasi religius, intelektual, dan berdaya saing. Warisan pemikiran dan perjuangannya terus menjadi inspirasi bagi keluarga besar Nurul Huda untuk melanjutkan ikhtiar membangun pendidikan yang unggul, berkarakter, dan memberi manfaat bagi bangsa serta umat.
Dengan konsistensi menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus keberanian melakukan inovasi, KH. Affandi menjadi contoh bahwa pesantren dapat berkembang menjadi pusat peradaban yang adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan identitasnya. Warisan pemikiran dan perjuangan beliau kini terus menjadi inspirasi bagi keluarga besar Nurul Huda dalam melanjutkan ikhtiar membangun pendidikan yang unggul, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
No comments:
Post a Comment