Ahlan Wasahlan

Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuhu
!!!SELAMAT DATANG!!!
"Tuhan Selalu Memberikan yang Terbaik untuk Hamba-Nya."


Tuesday, October 23, 2012

Perkembangan Islam, Takdir, dan Filsafat



Perkembangan Islam, Takdir, dan Filsafat

Bangsa Arab populer dengan sebutan bangsa Badwy (Baduy) yang identik dengan kesederhanaan namun terbelakang secara intelektual, sosial, politik dan ekonomi. Muhammad bin Abdullah adalah seorang Arab tulen yang kemudian mendapat amanat dan wahyu Allah swt hingga diangkat menjadi Rasulullah. Amanat yang begitu agung dan mulia diberikan untuk menyebar rahmat Allah swt di sekalian alam. Idealnya, amanat sebesar itu tak akan mampu diemban oleh seseorang yang dikategorikan ke dalam bangsa Badwy. Ternyata yang disaksikan sekarang, amanat itu menjadi kenyataan. Islam hingga kini telah menyebar ke seluruh pelosok dunia.
Problema takdir terus menjadi isu yang hangat sepanjang pemahaman manusia. Sebab isu itu memiliki dampak langsung maupun tidak langsung terhadap nasib manusia. Berbagai faham teologis hanya menciptakan kelompok-kelompok yang tak habis perdebatannya, baik dari sudut pandang kuasa manusia maupun kehendak Tuhan. Perdebatan tersebut terus terjadi dan perlu ada solusi untuk menengahi pendapat-pendapat tersebut.
Filsafat telah menjadi momok yang menakutkan di sebagian ummat Islam, sehingga pada masa pasca Imam al-Ghazali, filsafat sempat menjadi barang haram bagi mereka bahkan hingga kini. Hal ini terjadi, padahal filsafat telah memberi dampak bagi dunia Islam, sehingga perlu ada pembelaan terhadap filsafat Islam.

1.      Perkembangan Islam dan Kemajuannya
a.       Arab Pra Islam
Bangsa Arab sebelum Islam disebut dengan istilah Bangsa Badwy, dan zaman tersebut disebut zaman jahiliyah. Tidak benar apabila Badwy dan Jahiliyah yang dimaksud adalah kesederhanaan dan terbelakang secara intelektual, sosial, politik, dan ekonomi. Jahiliyah yang dimaksud merupakan kerusakan moral dan kebodohan dalam akidah yang tidak menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Mayoritas orang Arab zaman tersebut menyembah berhala.
Subhani (2006) menjelaskan bahwa bangsa Arab sebelum Islam telah beradab sejak berabad-abad. Bangunan-bangunan megah dan tinggi yang didirikan di berbagai bagian Arabia, dan hubungan dagangnya dengan berbagai bangsa yang maju di dunia, membuktikan bahwa bangsa Arab sebelum Islam telah beradab.[1]
Pendapat tersebut dengan mudah dapat dicerna oleh akal, karena tidak mungkin bangsa yang terbelakang mampu membangun gedung-gedung megah dan tinggi juga mempunyai hubungan perniagaan dengan bangsa-bangsa besar. Hal ini jelas menunjukkan bahwa bangsa Arab sebelum Islam adalah bangsa yang maju dan beradab. Jadi tidaklah benar apabila dikatakan bahwa bangsa Arab sebelum Islam adalah bangsa yang terbelakang.
b.      Kelahiran Muhammad bin Abdullah
Kegelapan zaman jahiliyah telah menutupi seluruh bangsa Arab. Perbuatan buruk, peperangan, perampokan, dan pembunuhan bayi perempuan telah menyebabkan bangsa Arab berada pada posisi kerusakan moral yang luar biasa. Pada waktu itu diperlukan kemunculan cahaya benderang yang membawa perubahan.
Subhani (2006) menulis, ”Para penulis sirah (biografi) Nabi umumnya sepakat bahwa Nabi Muhammad lahir di Tahun Gajah 570 M. Adalah pasti bahwa beliau meninggal tahun 632 M. Bila saat itu usianya 62-63 tahun, berarti beliau lahir tahun 570 M”.[2]
Kelahiran Nabi Muhammad SAW membawa amanat besar dari Allah sebagai cahaya bagi bangsa Arab Jahiliyah. Kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan langkah awal menuju peradaban baru, kemajuan, dan kemakmuran bagi bangsa Arab yang terbelakang secara akidah dan moral.


c.       Perkembangan dan Kemajuan Islam
Menurut Murodi (1997) bahwa Islam maju dan menyebar ke seluruh pelosok dunia karena Islam telah mengajarkan umatnya untuk berperadaban tinggi, ajaran Islam tersebut antara lain:
1)      Islam sangat menghargai akal, meletakkan akal pada tempat terhormat, memerintahkan manusia mempergunakan akalnya untuk memeriksa dan memikirkan keadaan alam.
2)      Islam mewajibkan setiap pemeluk Islam untuk menuntut ilmu.
3)      Islam melarang orang bertaklid buta, menerima sesuatu sebelum diperiksa.
4)      Islam mengerahkan pemeluknya supaya melakukan penemuan-penemuan baru dan bermanfaat bagi kemanusiaan.
5)      Islam memerintahkan pemeluknya untuk mencari keridaan Allah dan mempergunakan hak-hak keduniaan dalam peraturan agama.
6)      Islam memerintahkan umatnya untuk memperhubungkan silaturahmi dengan bangsa dan golongan lain dan saling bertukar pengetahuan.
7)      Islam menyuruh memeriksa dan menerima kebenaran walaupun datang dari kaum yang berlainan bangsa dan berlainan kepercayaan.[3]
Kemajuan Islam sampai sekarang ini yang telah menyebar ke seluruh pelosok dunia, merupakan keberhasilan misi Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk untuk semua umat manusia di dunia. Hal ini tidak terlepas dari keberhasilan Nabi Muhammad SAW menanamkan akidah Islamiyah kepada para sahabat dan pengikutnya.
Beberapa faktor yang menyebabkan kemajuan Islam antara lain:
a.       Nabi Muhammad SAW telah dipersiapkan oleh Allah SWT, hal tersebut dapat diketahui dari:
1)      Nabi Muhammad SAW dilahirkan dari keluarga yang tetap taat memegang ajaran Nabi Ibrahim AS.
2)      Nabi Muhammad SAW dari kecil telah dijauhkan dari maksiat dan haram. Ketika kecil Nabi Muhammad SAW disusukan kepada seorang perempuan dari luar kota.
3)      Pada waktu kecil Nabi Muhammad SAW telah dibersihkan hatinya oleh malaikat Jibril.
b.      Keadaan geografis Semenanjung Arab telah menempa orang-orang Arab menjadi orang yang tahan menghadapi segala keadaan. Setelah orang-orang Arab masuk Islam, mereka menjadi pembela Islam yang gagah berani.
c.       Islam menyebar dengan damai dan tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam. Islam memerintahkan perang hanya untuk orang-orang yang memusuhi Islam.
d.      Akidah Islamiyah yang kuat dan kokoh menjadi motivasi utama untuk mengembangkan dan menyebarkan Islam.
e.       Ajaran Islam mendorong umatnya untuk berperadaban tinggi.

2.      Takdir dan Alirannya
a.       Perdebatan tentang Takdir
Berkaitan dengan problema takdir tentang kuasa manusia dan kehendak Tuhan terdapat dua kelompok besar yang memperdebatkannya, kedua kelompok tersebut adalah Qadariah dan Jabariah. Menurut Nasution (1986) bahwa kedua kelompok yang memperdebatkan tentang takdir tersebut adalah Qadariah dan Jabariah. Kaum Qadariah berpendapat bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dan kebebasan menentukan perjalanan hidupnya. Manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Sebaliknya, Kaum Jabariah berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perubatannya. Manusia terikat pada kehendak mutlak Tuhan.[4]
Kedua kelompok tersebut sama-sama mempunyai dasar dari Al-Qur’an. Ayat-ayat al-Qur’an yang menjadi dasar bagi Kaum Qadariah antara lain:
1)      Surat Fussilat (41) ayat 40
إِنَّ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي آيَاتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَا أَفَمَن يُلْقَى فِي النَّارِ خَيْرٌ أَم مَّن يَأْتِي آمِناً يَوْمَ  الْقِيَامَةِ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ [5]
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

2)      Surat ar-Ra’d (13) ayat 11
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى  يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءاً فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ   [6]
Artinya: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Ayat-ayat al-Qur’an yang menjadi dasari bagi Kaum Jabariah antara lain:
1)      Surat ash-Shaffat (37) ayat 96
 [7]وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
Artinya:  ”Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu".
2)      Surat al-Hadid (57) ayat 22)
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ  عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ  [8]
Artinya: ”Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”.
Kedua kelompok yang berbeda pendapat tersebut tidaklah menyalahi al-Qur’an, karena semuanya sama-sama berdasar pada ayat-ayat al-Qur’an.
b.      Solusi Penengah
Nasution (1986) mengatakan:
Pada hakekatnya semua aliran tersebut, tidaklah keluar dari Islam, tetapi tetap dalam Islam. Dengan demikian tiap orang Islam bebas memilih salah satu dari aliran-aliran teologi tersebut, yaitu aliran mana yang sesuai dengan dengan jiwa dan pendapatnya.[9]

Keberadaan perbedaan pendapat tentang takdir tidak harus menjadi alasan untuk saling bermusuhan dan saling menyalahkan. Manusia harus bersikap positif dalam menyikapi perbedaan pendapat tentang takdir tersebut. Menurut T. Ibrahim (2008), ”Sikap positif terhadap qada dan qadar, antara lain ikhtiar, tawaduk, tawakal, dan tabah”.[10]
Kewajiban manusia berkaitan dengan takdir adalah berusaha, selebihnya semua harus dikembalikan kepada Allah. Hasil bukanlah wilayah manusia lagi, wilayah manusia hanya terbatas pada usaha. Keberadaan takdir harus menjadi motivasi bagi manusia untuk selalu berusaha dengan sebaik-baiknya melalui sarana yang dibenarkan oleh agama.
Menurut T. Ibrahim (2008),
Dalam kenyataan hidup ini ada sesuatu yang tidak dapat diusahakan manusia dan ada pula sesuatu yang tergantung dari usaha manusia. Oleh karena itu, ulama mengatakan bahwa takdir ada dua macam, yaitu takdir mubram dan mu’allaq.
a.       Takdir Mubram
Takdir mubram  ialah takdir yang tidak dapat berubah karena kemauan atau usaha manusia.
b.      Takdir Mu’allaq
Takdir mu’allaq ialah takdir yang dapat berubah karena adanya usaha yang dilakukan manusia.[11]

Jalan tengah bagi perbedaan antara Jabariah dan Qadariah adalah bahwa takdir ada yang dapat diubah dan takdir yang tidak dapat diubah oleh usaha manusia.

3.      Filsafat dan Islam
a.       Filsafat dalam Islam
Filsafat bukan untuk orang awam, karena filsafat seperti alam yang sangat abstrak, dalam dan luas, hanya orang-orang yang ahli berpikir dan menguasai sarana dan metodenya yang dapat berkecimpung di dalamnya.
Berfilsafat diperlukan untuk berpikir dan mencari kebenaran. Kebenaran dalam ajaran Islam telah ada yaitu yang datang dari Allah, kebenaran yang terkandung dalam kebesaran Allah, sebagaimana Syadali (1997) mengatakan, ”Filsafat adalah hasil akan seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain, filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu”.[12]
Ketakjuban terhadap kebesaran Allah menyebabkan orang berkeinginan untuk mengetahui dan memikirkannya agar dapat mensyukuri nikmat Allah lebih mendalam. Allah berfirman dalam surat al-An’am (6) ayat 98
 وَهُوَ الَّذِيَ أَنشَأَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ قَدْ فَصَّلْنَا الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ    [13]
Artinya: ”Dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui”.
Al-Qur’an surat al-Isra’ (17) ayat 85
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً [14]
Artinya: ”Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit"”.
Merenung dan berpikir menjadi jalan ke filsafat dan dengan berfilsafat  berarti telah menghargai dan mensyukuri nikmat Allah. Menghargai Allah yang telah memberikan akal pikiran kepada manusia dan mensyukuri nikmat Allah dengan cara menggunakan akal pikiran itu. Hal yang perlu diperhatikan bahwa ada batas-batas lokasi akal yang boleh berperan dan setelah itu agamalah yang mengambil alih peran akal tersebut.
b.      Dampak filsafat
Ahmad Saebani (2009) mengatakan: ”Tidak ada satupun makhluk Tuhan yang diciptakan dalam keadaan sia-sia dan batil. Semua yang tercipta untuk manusia memiliki manfaat”.[15] Demikian pula dengan filsafat yang merupakan hasil kerja akal karunia Allah juga mempunyai manfaat yang sangat besar bagi kelangsungan kehidupan manusia.
Menurut Supriyadi (2009), ”Pemakaian akal yang diperintahkan Al-Qur’an, seperti yang terdapat dalam ayat-ayat kauniyah, mendorong manusia untuk meneliti alam sekitarnya dan mengembangkan ilmu pengetahuan”.[16]
Dalam perjalanan filsafat, ternyata ada golongan tertentu yang tenggelam dalam mempelajari filsafat sehingga menjadi orang sesat. Hal inilah yang mungkin menyebabkan sekelompok orang mengharamkan filsafat. Akan tetapi, di lain pihak ternyata filsafat menjadi pemacu pengembangan dan kemajuan peradaban dan pemikiran Islam, sehingga ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat.
c.       Pembelaan terhadap filsafat
Diakui atau tidak bahwa filsafat telah digunakan di dunia Islam. Filsafat telah menjadi jiwa dan mewarnai pemikiran-pemikiran yang berguna bagi pengembangan dan kemajuan Islam. Filsafat tidak keluar dari akidah Islam, Islam menjadi roh sebagai nilai spiritual filsafat.
Menurut Djamil (1997) bahwa filsafat dalam Islam menjadi sarana untuk menganalisis hukum Islam secara metodis dan sistematis sehingga mendapatkan keterangan yang mendasar, atau menganalisis hukum Islam secara Islami.[17]
Manusia sebagai makhluk yang dikarunia akal sebagai bekal hidup di dunia harus memanfaatkan akalnya itu. Hukum Islam harus diterima dengan baik oleh akal. Oleh karena itu diperlukan filsafat untuk menganalisisnya dengan metode-metode ilmiah dan sistematis, sehingga dapat menjawab pertanyaan orang-orang yang berusaha mendebat Islam.
Menurut Musa (1991),
Pada tingkat terakhir hasil pemikiran filsafat tidak mungkin bertentangan dengan agama karena kedua-duanya bersumber pada hakikat terakhir yang sama, dan apabila ada ketidakserasian, diperlukan refleksi yang lebih mendalam atau tafsiran baru. Apabila kontradiksinya tidak dapat dihilangkan juga, timbul perbedaan pendapat tentang apakah akal pikiran atau iman yang harus diutamakan.[18]

Filsafat dalam Islam memiliki banyak kegunaan antara lain sebagai berikut:
1)      Ajaran Islam menganjurkan pemeluknya untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Surat Ali Imran (3) ayat 190-191 menegaskan:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ . الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ [19]
Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

2)      Mempelajari filsafat bermanfaat untuk memperkuat akidah Islamiah.
3)      Mempelajari filsafat berguna untuk berdiskusi dan berargumentasi dengan  orang-orang yang tidak seagama atau yang menyimpang dari ajaran Islam.
4)      Situasi dan kondisi masyarakat yang semakin maju memerlukan filsafat untuk memperoleh ilmu yang tidak menyimpang dari ajaran agama.
5)      Larangan berfilsafat merupakan pengekangan kebebasan berpikir yang mengarah pada penindasan terhadap orang-orang yang berpotensi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.[20]
Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam dengan tegas telah memerintahkan umatnya untuk menuntut ilmu. Ilmu yang diperoleh melalui jalan filsafat dapat digunakan untuk memperkuat akidah Islamiah. Akidah yang kuat dan kemampuan berfilsafat akan sangat membantu untuk berdiskusi dengan orang-orang yang menyimpang dari Islam.
Seiring kemajuan zaman, maka masyarakat juga semakin maju. Kemajuan yang dialami masyarakat Islam sangat memerlukan kehadiran filsafat agar ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak menyimpang dari ajaran Islam. Dengan demikian larangan terhadap filsafat merupakan pengekangan kebebasan berpikir manusia yang menjadi fitrah sejak lahir dan menghambat pengembangan ilmu pengetahuan yang Islami.




















DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an al-Karim.

Ahmad Saebani, Beni. 2009. Filsafat Ilmu. Bandung: Pustaka Setia.

Asmuni, Yusran. 1996. Dirasah Islamiyah II. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Djamil, Fathurrahman. 1997. Filsafat Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Murodi. 1997. Sejarah Kebudayaah Islam. Semarang: PT. Karya Toha Putra.

Musa, Yusuf, M. 1991. Al-Qur’an dan Filsafat, Penuntun Mempelajari Filsafat Islam. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Nasution, Harun. 1986. Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta: UI-Press.

Subhani, Ja’far. 2006.  Sejarah Nabi Muhammad SAW. Jakarta: Lentera.

Supriyadi, Dedi. 2009. Pengantar Filsafat Islam: Konsep, filsuf, dan ajarannya. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Syadali, Ahmad, Mudzakir. 1997. Filsafat Umum. Bandung: Pustaka Setia.

T. Ibrahim, Darsono. 2008. Membangun Akidah dan Akhlak. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.



[1] Subhani, Ja’far. 2006.  Sejarah Nabi Muhammad SAW. Jakarta: Lentera. hlm.12
[2] Subhani, Ja’far. 2006.  Sejarah.... hlm. 100
[3] Murodi. 1997. Sejarah Kebudayaah Islam. Semarang: PT. Karya Toha Putra. hlm. 22-24
[4] Nasution, Harun. 1986. Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta: UI-Press.hlm. 31
[5] Q.S, 41:40
[6] Q.S, 13:11
[7] Q.S, 37:96
[8] Q.S, 57:22
[9] Nasution, Harun. 1986. Teologi Islam....hlm. 152
[10] T. Ibrahim, Darsono. 2008. Membangun Akidah dan Akhlak. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. hlm.53
[11] T. Ibrahim, Darsono. 2008. Membangun.... hlm.54
[12] Syadali, Ahmad, Mudzakir. 1997. Filsafat Umum. Bandung: Pustaka Setia. hlm. 11
[13] Q.S, 6:98
[14] Q.S, 17:85
[15] Ahmad Saebani, Beni. 2009. Filsafat Ilmu. Bandung: Pustaka Setia. hlm.41
[16] Supriyadi, Dedi. 2009. Pengantar Filsafat Islam: Konsep, filsuf, dan ajarannya. Bandung: CV. Pustaka Setia. hlm. 43
[17] Djamil, Fathurrahman. 1997. Filsafat Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. hlm.
[18] Musa, Yusuf, M. 1991. Al-Qur’an dan Filsafat, Penuntun Mempelajari Filsafat Islam. Yogyakarta: Tiara Wacana. hlm. 79
[19] Q.S, 3:190-191
[20] Asmuni, Yusran. 1996. Dirasah Islamiyah II. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. hlm. 95-98

Dapat diunduh di sini!

No comments: